SEJARAH GAMNA

SEJARAH LAHIRNYA Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh (GAMNA)

Dalam berbagai diskusi yang kami buat, muncul satu keresahan bersama menyaksikan realitas kondisi Aceh saat ini, aliran sesat menjamur, pegawai negeri semakin banyak yang tidak bermutu, beasiswa yang begitu besar belum mampu melahirkan sarjana-sarjana yang mampu melahirkan perubahan mendasar di masyarakat. Begitu juga, muda-mudi Aceh dewasa ini yang kian jauh dari identitas ke-Acehan dan ke-Islamanya.

Di lain sisi, pada sektor pemerintahan, uang yang begitu besar untuk Aceh seperti anggaran Otonom Khusus (Otsus), Migas, APBA dan APBK se-Aceh, yang mencapai puluhan triliun setiap tahunnya, belum juga mampu memberikan dampak positif terhadap percepatan pembangunan Aceh, yang akhirnya diharapkan dapat menyerap tenaga kerja,menekan angka kemiskinan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Rakyat Aceh yang sebahagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian, seharusnya alokasi dana yang besar sebaiknya ditekankan pada sektor pertanian, juga regulasi serta mencari dan mengembankan investasi pada sektor-sektor potensial yang ada di Aceh. Konsep yang dijual selama ini masih bersifat teori belaka. Investor hanya berhenti pada penandatanganan MoU, sedangkan realisasi tidak pernah terwujud.

Ironisnya, ini terjadi disaat Aceh mendapat anggaran yang begitu besar dan dikelola oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Berawal dari keresahan bersama ini, pada awal tahun 2010 GAMNA  resmi didirikan walaupun gerakannya masih sebatas diskusi-diskusi ringan, namun berbobot.

Muda mudi Aceh dewasa ini kehilangan jati diri. Mereka lebih berbangga diri dengan budaya-budaya luar yang padahal sangat jauh dari nilai-nilai ke-Acehan dan KeIslaman. Bukan hanya itu saja, mereka juga seakan malu menunjukkan identitas ke-Acehan tanpa merasa bersalah. Bahkan mereka tidak sungkan-sungkan melabrak norma-norma Agama dan budaya demi memuaskan nafsu hedonisme.

Di Banda Aceh contohnya, sebagai kota yang didiami oleh para pelajar/Mahasiswa yang akan menjadi tokoh-tokoh bangsa di masa yang akan datang, kota ini justru menjadi arena pertunjukan budaya permisif muda-mudi Aceh. Mereka bukan saja kurang peduli dengan upaya untuk mempertahankan identitas Aceh dan nilai-nilai Islamnya, malahan mereka justru menjadi orang-orang yang terdepan dalam menghancurkan impian rakyat negeri ini menjadi negeri Syari`at yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Sehingga tidak heran jika kita mendengar julukan baru bagi kota pelajar, dari Darussalam menjadi Darussyahwat.

Di warung-warung kopi di Banda Aceh, saat azan berkumandang, muda-mudi Aceh sangat sedikit yang menghiraukan suara azan dan bergegas menunaikan perintah Allah. Mereka justru sibuk berhuru-hara dengan Game perjudian dan teman lawan jenisnya, bahkan mereka malu berbicara dalam bahasa Aceh, Inikah yang disebut sebagai pemuda Aceh?, Inikah Generasi Aceh yang kita harapkan menjadi tokoh-tokoh bangsa yang akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan Aceh di hai esok?, Apa yang bias kita harapkan dari mereka jika untuk merubah diri mereka saja masih belum mampu, mereka justru menambah masalah  ditengah kompleksitas persoalan negeri ini.

Kita ingin pemuda-pemudi Aceh itu yang menghadirkan solusi bagi Agama dan bangsanya. Kita ingin mereka yang mengaku sebagai pemuda-pemudi Aceh menjadi pelopor berbagai agenda perubahan Nanggroe Syari`at Islam.  Kita ingin mereka yang mengaku sebagai pemuda-pemudi Aceh berbangga diri dengan dengan identitas keIslamanya. Kita ingin muda-mudi Aceh itu adalah mereka yang peka dengan isu-isu social kemasyarakatan, memiliki sensivitas  yang tinggi atas persoalan negerinya. Kita rindu muda-mudi Aceh itu adalah mereka yang konsisten menyuarakan kebenaran, tanpa disekat oleh kepentingan politik, walaupun merka adalah anggota-anggota partai politik.

Kita ingin muda-mudi Aceh adalah mereka benar aqidahnya tanpa ada noda-noda kesyirikan dan kekufuran, kita ingin muda-mudi Aceh itu taat dan benar dalam beribadah, bagus akhlaknya, memiliki wawasan yang luas mencakup ilmu Agama dan umum. Kita rindu muda-mudi Aceh yang teratur dan professional dalam urusannya, mampu berusaha secara mandiri, serta bermanfaat bagi orang lain.

Disisi lain, kita juga ingin muda-mudi Aceh berbangsa dengan bahasa Aceh-nya, menguasai sejarah bangsanya, mengenal dan menghormati para ulama-ulama Aceh.

Apakah semua kerinduan ini mustahil untuk diwujudkan?, tentu saja tidak.  GAMNA akan berjuang untuk meraih semua tujuan itu dengan bersinergi bersama Ormas-ormas lainnya.

 

Teuku Irsyadi Yahya                                                                                   Teungku Muhammad Nasir

Ketua Umum                                                                                                  Sekretaris Umum

 

dsc_0088-copy                                                                                                     DSC_0021-150x150

Translate »