mus

“Ketika Tuhan Dikurung Dalam Sangkar Agama”.

Malam hendak beranjak ke ‘isya saat seorang teman mengajak, “Ke Taman Budaya, yuk! Nonton teater.”

“Aku malas pergi,” jawabku. “Pasti sanggar itu yang main, kan?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Itu para seniman liberal. Daripada bikin marah menonton mereka, lebih baik kamu saja yang pigi,” jawabku.

“Memilih sikap sepertimu, itu paling tak nyaman hidup di zaman seperti ini. Bersikap bebas saja. Terima dulu semuanya, lalu cerna satu-persatu,” rayunya. Akhirnya aku luluh. Kami pun pergi ke Taman Budaya.

Kami masuk ke gedung pertunjukan setelah membeli tiket yang lumayan mahal. Tapi orang-orang memang menyukai penampilan teater yang amat terkenal di ibukota provinsi kami itu. Tiba di dalam, penonton sudah memadati setiap kursi. Kami memilih duduk dengan nyaman di dua kursi yang tersisa di barisan paling belakang.

Pertunjukan dimulai. Masya Allah, persis seperti yang kuduga. Itu pertunjukan teater paling kurang ajar yang pernah kutonton. Bayangkan, di tengah panggung ada sebuah sangkar besar. Di dalamnya ada seorang berpakaian seperti raja. Tapi rupanya itu bukan raja. Mereka melambangkan orang yang di dalam sangkar sebagai dewa. Tapi sesungguhnya mereka ingin mengatakan pada penonton bahwa yang di dalam sangkar itu adalah “tuhan”.

Dialog dimulai. Pemain yang dikurung di dalam sangkar berteriak pada sejumlah orang yang mengelilingi sangkar. “Lepaskan aku dari agama kalian!” Nah, kan? Kurang ajar, kan? Rupanya mereka melambangkan sangkar itu sebagai suatu agama. Jelasnya, mereka ingin mengatakan pada penonton bahwa mereka sedang mempertunjukkan sebuah drama bertema “Ketika Tuhan Dikurung Dalam Sangkar Agama”.

“Lepaskan aku dari agama kalian!” teriak orang yang di dalam sangkar lagi. Kemudian salah seorang yang mengelilingi sangkar menjawab (sambil menghaturkan sembah), “Jika kami mengeluarkan engkau dari sangkar ini, engkau pasti akan dikurung dalam sangkar agama tetangga kami. Akhirnya sama saja, kan?”

“Apa?” teriak pemain yang di dalam sangkar. “Apa kalian pikir cuma kalian saja sebagai hambaku? Mereka yang dari agama lain itu hambaku juga, tahu!” Kemudian salah seorang lagi (yang sedang mengelilingi sangkar) menjawab, “Tetaplah dalam agama ini saja. Engkau tidak akan kekurangan apa-apa. Kami akan tetap menyembahmu dengan ta’at.”

Mendengar itu, aktor yang di dalam sangkar berteriak-teriak memukul-mukul jeruji sangkar, “Bebaskan aku dari agama kalian! Bebaskan aku! Aku harus adil! Aku harus datang dan memberkati setiap agama! Aku harus singgah pada setiap manusia, binatang, hutan belantara, gedung-gedung, sungai, lautan, pulau-pulau terpencil dan lembah-lembah beku di ceruk-ceruk sempit pergunungan Alpen! Aku harus mengasihi semua insan, baik yang sekuler maupun yang ateis! Mereka adalah hambaku!”

Seketika aku bangkit dari kursi.

“Mau ke mana?” tanya temanku.

“Daripada kemarahanku meledak di tengah-tengah orang ramai ini, lebih baik aku keluar saja.”

“Memilih sikap sepertimu, itu paling tak nyaman hidup di zaman murtad seperti ini. Bersikap bebas saja. Dewasakan mentalitasmu. Terima dulu semuanya, lalu cerna satu-persatu,” rayunya lagi dengan kuliah yang sama seperti saat mengajak tadi. Tapi kali ini aku tidak luluh. Aku tetap keluar dari gedung, duduk menyepi di bangku batu bawah pohon akasia di sudut temaram pekarangan depan Taman Budaya, membelai kemarahan sambil menunggu teman usai menonton.

Tapi tak lama kemudian, aku mendengar suara ribut-ribut di dalam gedung. Penasaran, aku berlari masuk lagi. Rupanya beberapa penonton yang tak tahan wilayah ketauhidan dan agama dipermain-mainkan dengan kebebasan berekspresi ala teater, melompat ke panggung, mengeroyok aktor yang terjebak dalam sangkar agama, sedangkan para ‘hamba’nya melompat dari panggung berlarian ke segala penjuru dan keluar menyelamatkan diri ke luar gedung.

Saat si aktor lambang dewa yang tak sempat lari itu digebuki sampai roboh terkapar pingsan di lantai pertunjukan, para pengeroyok menghadap ke penonton mengacungkan kepalan tangan ke langit sambil berseru, “Tuhan telah mati!”

Lalu, dari altar samping dekorasi panggung, aktor yang berperan sebagai sang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche melangkah ke tengah-tengah panggung, menghadap ke penonton, bergumam, “Nah, kan? Yang kubilang juga apa.”

Penonton bertepuk tangan dengan riuh. Pertunjukan selesai. Penonton bertepuk tangan lagi riuh membahana. Aku keluar gedung sambil merunduk menekur tanah, merenungi ucapan temanku tadi. Ya, malam ini dia benar. Memilih sikap fanatisme-tanpa-ampun di zaman murtad bebas berekspresi seperti ini, membuatku telah tertipu tiga kali.

Pertama: tadi aku menonton dengan hati penuh kebencian, padahal samasekali tidak perlu;

Kedua: tadi, setelah keluar, aku masuk lagi untuk menonton karena tak tahan ingin melihat semoga kericuhan dan bencana menimpa group teater liberal itu, ternyata Tuhan tidak mendukung niat-jihadku;

Ketiga: aku senang bukan kepalang saat beberapa penonton yang ta’at beragama melompat ke panggung mengeroyok si aktor pengolok-ngolok Tuhan, namun ternyata itu juga bagian dari jalannya pertunjukan.

Penulis: Musmarwan Abdullah