FB_IMG_1463307017434

NA LON TUAN, YANG TERLUPAKAN (1)

NA LON TUAN, YANG TERLUPAKAN (1)

Bahasa yang menjadi salah satu bukti nyata jati diri sebuah bangsa, 2014 saya di undang di salah satu pertemuan tokoh-tokoh Aceh di Negeri seberang Malaysia, membahas tentang ,”KENAPA ACEH BERGOLAK,”.?

Lebih kurang 50 orang perwakilan bangsa Aceh di seluruh dunia hadir di sana dan cuma saya yang tidak mempunyai gelar dan pekerjaan tetap, yang sangat mengherankan bagi saya, sesampainya di sana mereka rata-rata bercengkrama dengan bahasa macam-macam yang ada di dunia dan khususnya mereka banyak yang berdialog dengan bahasa Melayu dan Inggris.

Saat itu saya berusaha untuk membangkitkan suasana agar keadaan menjadi hidup dan saya mengucapkan salam sambil mendekati salah seorang yang dekat duduk dengan saya dan sayapun mulai dengan Bahasa Aceh.
peu haba syedara, pat lawetnyo hana deuh sagai? dan kawan saya tersebut membalas salam sambil memeluk saya dan mengatakan saya sekarang lagi jarang keluar rumah, cuma kali ini karena undangan pertemuan rakan-rakan sebangsa saya menyempatkan diri untuk hadir.

Tiba-tiba suara mix berbunyi dengan ucapan salam dan mempersilahkan kami untuk duduk di tempat yang telah di sediakan, suasana ruangan menjadi sibuk dengan gaya tanpa suara dan peserta semua mencari posisi kursi yang di disediakan untuk tempatinya.

Acarapun di mulai dan di buka oleh seorang protokol dengan judul acara “KENAPA ACEH BERGOLAK”? sayapun menyimak satu persatu kata yang di sampaikan karena judul acara kali ini sangat menarik bagi saya.

singkat cerita setelah pembukaan dan di ikuti dengan pembacaan kitab suci Al qur’an lalu protokol mempersilahkan tiga nara sumber untuk menempati kursi yang sudah di sediakan di depan peserta.

Kemudian merekapun beranjak dari kursi yang tadinya bersama sama dengan peserta dan menempati kursi di depan sambil mengangkat tangan ke arah peserta. dan protokol mempersilahkan moderator untuk memulai acara pada sesi berikutnya dan moderatorpun memulai acaranya dan di lanjut dengan tiga nara sumber berikutnya, sampai tibalah pada klimak acara yang saya nantikan yaitu sesi bertanya pada nara sumber.

Moderator mempersilahkan pada peserta untuk bertanya atau saran-saran yang menyangkut dengan judul dari acara tersebut dan beberapa orang menunjukkan tangan dan salah satu dari pereta yang menunjukkan tangan itu saya sendiri dan moderatorpun mempersilahkan satu persatu peserta untuk bertanya dan di jawab satu persatu oleh nara sumber dan akhirnya sampailah pada giliran saya dan sayapun mulai dengan gaya saya sediri yang penuh dengan keserhanaan dan kekurangan.

Rasa agak terasa malu karena di antara sekian banyaknya peserta sayalah salah satu peserta yang berpenampilan agak gembel, namun karena niat yang tulus saya mulailah dengan apa yang saya mampu paparkan pada acara tersebut.

sayapun mengucapkan salam dan terima kasih saya pada moderator dan sayapun memperkenalkan diri saya dan pekerjaan keseharian saya dan baru saya mulai dengan unek- unek yang terlintas di dalam fikiran.

saya menyampaikan bahwa pada dasarnya bukankah kita hadir di sini tidak mau Aceh itu bergok? namun kenyataannya sesuai dengan judul acara kenapa Aceh bergolak maka saya berusaha untuk mengkondisikan suasana menjadi fakta terbalik.

Di lihat dari sikologis bangsa kita sebenarnya judul dari acara kali ini adalah bukan kenapa Aceh bergolak namun sebaliknya bagai mana caranya agar Aceh tidak bergolak dan minimal kedepan harinya jangan ada lagi pergolakan, di sini kita dan bangsa kita di sana di dalam negeri mengharapkan bahwa Aceh kedepan tiada lagi pergolakan namun fakta mengatakan lain dan saya beranggapan bahwa kita mengundang pergolakan.

Tiba-tiba salah seorang dari peserta bersuara maaf bolehkah saya memotong sebentar dan secara spontanitas mata mengarah pada peserta yang memotong pembicaraan saya dan sayapun menyerahkan pada moderator.

Ternyata moderator menjawabnya dengan penuh sopan, sayapun minta maaf sebenarnya alangkah baiknya kita memberi kesempatan pada peserta yang terlebih dahulu untuk menyampaikan unek-uneknya namun karena adab orang Aceh bila kata maaf yang di mulai atau kata tolong maka sayapun dengan penuh kerendahan hati memberi anda waktu sebentar untuk menyampaikan apa yang terbersit di fikiran anda, dan di ikuti dengan tawa peserta.

lalu peserta yang memotong pembicaraan sayapun mulai dengan ucapan salam dan berkata saya sangat menarik dengan peserta barusan saat memulai dengan fakta terbaliknya dan saya sebenarnya bukan ingin bertanya namun ingin memberi usul apakah bisa saudara peserta barusan di posisikan di hadapan kita untuk memaparkan unek-uneknya, hanya itu terimakasih.

moderatorpun menjawab akan usulan peserta tersebut dengan kata maaf berikutnya dan sekaligus berkata alangkah tidak sopan kalau kita memberi kesempatan peserta untuk berdiri di depan kita untuk menyampaikan unek-uneknya karena kita sudah mengundang tiga nara sumber namun karena usulan ini bisa membawa suasana lebih hidup sekali lagi saya harus minta maaf dan bertanya pada nara sumber bagai mana bapak-bapak nasasumber apakah tidak berlebihan usulan peserta barusan dan di ikuti tepuk tangan dan tawa, spontan salah satu dari nara sumber menjawab saya rasa dalam suatu acara yang sehebat apapun kalau itu bisa bermanfaat buat kita semua apa salahnya kita merubah pola biasa menjadi luar biasa.

Moderatorpun kemudian mempersilahkan saya untuk kedepan dan saya di beri tempat pada posisi moderator dan sambil bercanda, saya sudah lebih seratusan acara yang saya pandu baru kali ini saya di geser posisi saya oleh peserta, namun agar suasana acara kali ini lebih hidup walau dengan berat hati saya mempersiapkan diri untuk menerima takdir kali ini, Canda mederator.

Dengan rasa malu dan sayapun mengucapkan terima kasih kepada moderator, nara sumber dan peserta yang telah memberi kepercayaan pada saya dan sayapun tidak lupa dengan mengucapkan salam sekaligus saya melanjutkan unek-unek saya barusan.

kondisi Bangsa kita sekarang ini rata-rata mengundang pergolakan baru dan saya mengangkat sedikit fakta dari sekian banyak fakta.
salah satu fakta tersebut adalah hilangnya bahasa yang sangat keramat yang biasa di gunakan oleh orang tua kita yaitu bahasa ,”NA LON TUAN,”
Menurut saya,
Na = ada
Lon= saya
Tuan = Pemimpin
Berarti kata na lon tuan adalah kata yang harus di berdayakan, dalam arti kata lain na lon tuan adalah saya empunya hak.
kondisi hari ini Bangsa Aceh krisis pemimpin akibat dari hilangnya bahasa NA LON TUAN karena menurut saya setiap ucapan itu doa, dan bermakna bangsa kita sekarang ini sedang mengundang pergolakan baru akibat krisis kepemimpinan dari hilangnya bahasa NA LON TUAN.

Dari itu tidak perlu heran kalau hari ini bangsa kita dipimpin oleh bangsa asing dan kalau kita mau Aceh kedepan di pimpin oleh TUAN EMPUNYA HAK maka kita harus membiasakan bahasa NA LON TUAN agar Aceh kembali pada jati dirinya sebagai bangsa yang bermarwah dan bertuan.

terima kasih yang tak terhingga mohon maaf atas segala kekurangan, wabillahi taufiq wal hidayah asaallamua’laukum warah matullahi wabarakatuh.

lalu secara spontan peserta berdiri menjawab salam secara bersamaan dan moderatorpun mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa waktu makan siang sudah tiba dan nanti setelah siap shalat dhuhur kita akan melanjutkan sesi selanjutnya dan moderatorpun mempersilahkan kami untuk menuju tempat makan yang sudah di sediakan sambil mengucapkan Assalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: TGK. SYEH MEUHIDANG. S.mh.